TERAKHIR

Hari begitu cerah, secerah hatiku, Rini dan Putra. Hari ini kami akan merayakan hari ulang tahun Putra yang ke-14. Bel pulang pun berbunyi seluruh siswa segera keluar dari kelas masing-masing. Sebagian dari mereka ada yang menuju ke kantin dan sebagian lagi langsung menuju ke pintu gerbang sekolah.

Aku, Rini dan Putra bergegas menuruni tangga dengan semangat. Rini yang menuruni tangga lebih dulu tiba-tiba membalik badannya ke arahku dan Putra. Seketika aku dan Putra terkaget tetapi Rini hanya tersenyum lebar tanpa ada perasaan bersalah kepada mereka berdua.
“Hari ini kita makan-makan dimana?” tanya Rini semangat.
“Hah? Emang siapa yang mau makan-makan?” tanya Putra.
“Oh ngga ya? Aku kirain iya.” semangat Rini memudar.
“Aku becanda kok rin, nanti kita makan-makannya di PIM aja ya” Putra menenangkan.
“OKE!” sahut aku dan Rini kompak.

Sebelum pergi merayakan ulang tahun Putra, kami semua kembali ke rumah masing-masing terlebih dahulu. Kami mandi dan berganti pakaian. Dua jam kemudian kami berkumpul di rumah Putra yang tak jauh dari rumahku dan Rini. Kami berangkat dengan menggunakan mobil sedan hitam milik Putra yang dikendarai oleh Pak Njang. Perjalan ini sangat sunyi. Masing-masing dari kami tak sabar untuk segera tiba disana.

Setelah satu jam perjalanan kami pun tiba di Pondok Indah Mall. Kami langsung menuju ke Sushi Tei, tempat favorit kami. Setelah duduk di meja yang telah dipesan oleh Putra, kami bertiga memesan menu favorit kami masing-masing. Setelah selesai, Rini mengeluarkan kado yang telah ia siapkan untuk Putra, selanjutnya aku.

Entah mengapa wajah Putra menjadi lebih lesu dari sebelumnya. Terkadang ia menundukan kepala dan sesekali ia tersenyum tetapi matanya menatapku dan Rini dengan cemas. Lama-lama ia terlihat seperti orang sakit yang gelisah. Aku dan Rini pun bertatapan dan bertanya-tanya dalam hati.

Handphone milik Rini berdering, mengalunkan sebuah lagu klasik yang familier ditelinga kami bertiga, rekaman permainan biola Putra yang memainkan lagu You Raise Me Up milik Josh Groban. Rini mengangkat telepon tersebut. Ketika sedang mengangkat telepon ia hanya mengangguk dan berkata “iya” dan “oke”. 30 detik kemudian Rini memutuskan hubungan telepon.

Wajah Rini panik “Aku harus pulang sekarang!”
Mata Putra melotot kaget “HAH?”
“Aku harus pulang, aku harus pergi ke Bandung sekarang juga. Nenekku masuk rumah sakit!” Rini menjelaskan dengan terbata-bata.

Putra hanya melihat ke arah Rini tanpa berkata-kata. Sepertinya ada segumpal amarah yang mempenuhi hatinya. Aku bingung harus berbuat apa. Rini membalas tatapan wajah Putra sambil tersenyum kecewa.

“Putra maaf, aku pulang sekarang ya. Mungkin tahun depan atau ulang tahun Aya kita rayain lagi. Selamat ulang tahun yaa Putra.” ucap Rini.
“Eh iya ut, kan masih ada ulang tahun aku dua bulan lagi, kita rayain bertiga lagi yaa. Udah, rin kamu pulang sekarang aja nanti mama kamu nungguin lho.” Aku menenangkan.
“Eh iya iya ay. Ut, Ay aku duluan ya. Daaah.” Rini pun melambaikan tangannya ke arahku dan Putra lalu menghilang dibalik pintu.


Wajah Putra tampak kesal, ia mengepal kedua tangannya diatas meja. Kepalanya menunduk. Tak tega rasanya untuk berbicara dengan Putra. Aku juga takut kalau-kalau Putra membentakku. Makanan yang kami pesan sudah berada diatas meja. Aku memberanikan diri untuk memulai percakapan dengan Putra dengan perasaan was-was.

Jantungku berdebar kencang “Uta, kamu marah sama Rini?”

Putra mengabaikanku berbicara. Kupandangi wajahnya, ia melamun melihat ke arah sepiring sushi kesukaannya dengan perasaan sebal. Aku tidak tau apa yang terjadi dengan Putra sekarang. Tatapannya sekarang kosong.

bersambung...

Comments

Popular posts from this blog

Firda and Fiqar

i'm........................ failed :(