Terakhir

“Kamu ngga tau apa yang aku rasain ay. Aku udah nunggu hari ini dari 3 bulan lalu. Aku udah ngerencanain hal-hal apa yang mau kita lakuin dihari ulang tahunku ini. Yah tapi semuanya bubar gitu aja ay karena Rini.” ucapan Putra membuatku tercengang.
“Ta, kita ngga tau kan kalau ini akan terjadi? Neneknya Rini masuk rumah sakit. Harusnya kita berdoa supaya cepat sembuh. Bukan kayak gini ta.”
“AYA, KAMU.. AH KAMU NGGA TAU KAN, HARI INI AKU MAU KASIH KALIAN KEJUTAN DISINI!” nada suara Putra meninggi.
“Putra, masih ada aku kan disini. Kamu bisa tunjukkin kejutan kamu ke aku.”
“AYAA. ARGH, MENDINGAN KAMU KELUAR SEKARANG!” bentak Putra kepadaku.

Dadaku sesak, air mata mengumpul dikelopak mataku. “Aku pulang sekarang!” aku pergi meninggalkan Putra disana sendirian.

Aku berlari menuju eskalator terdekat dan turun ke lantai 1. Aku menutupi hidung dan mulutku dengan tangan kananku. Tak kuasa ku menahan tangis. Air mataku akhirnya menetes di pipi sesampainya aku di lobby. Aku memberhentikan sebuah taksi dan aku masuk kedalamnya.
“Ke Kemang ya pak” kataku
“Iya mbak.”

Sepanjang perjalanan aku hanya menatap keluar. Aku merenungi hal yang baru saja terjadi. Mengapa Putra semarah dan sekecewa itu? Ini bukan hal yang luar biasa. Saat ulang tahun Rini tahun lalu, Putra berhalangan hadir dan Rini tidak keberatan. Ada apa sebenarnya dengan Putra? Sebelum pertanyaanku terjawab, taksi ini sudah berhenti didepan rumahku. Aku pun membayarnya dan langsung masuk kerumah.

Keesokan harinya Putra tidak masuk sekolah. Aku dan Rini mencoba untuk menelepon kerumahnya tetapi tidak ada yang mengangkat. Akhirnya sepulang sekolah aku dan Rini mampir ke rumah Putra sebentar. Setelah sampai dirumah Putra, Rini memencet bel dan menunggu Pak Njang membukakan pintu, tetapi selama 1 menit tak kunjung keluar sang penghuni rumah. Aneh, pikirku. Mengapa mereka semua tidak ada yang keluar?

Mungkinkah mereka pindah? Tapi mengapa Putra tidak memberitahu kami? Ah banyak pertanyaan berkecamuk di benakku. Akhirnya aku dan Rini memutuskan untuk pulang saja.
2 hari, 4 hari, Seminggu, Putra tak kunjung masuk juga. Ada apa dengan Putra? Nomor handphonenya tidak aktif, dikirimi sms tapi tak pernah dibalas. Aduh aku dan Rini jadi pusing sendiri.

Akhirnya setelah seminggu berlalu Tante Nia, Ibu Putra meneleponku.
“Hallo, Aya ada?”
“Iya ini aku. Ini Tante Nia ya?”
“Iya, kamu apa kabar ay?”
“Sangat buruk tante. Putra pergi kemana sih tante kok seminggu ngga sekolah?”
“Sebenarnya, tante telepon kamu supaya kamu mau dateng kesini.”
“Kemana tante?”
“Ke rumah sakit. Kamu mau? Ajak Rini juga ya.”
“Rumah sakit? Siapa yang sakit? Putra?”
“Eh-e-e bukan kok ay, kamu mau datang ngga? Nanti tante suruh Pak Njang jemput kamu dan Rini.”
“Oh gitu, ya udah aku telepon Rini dulu ya tante.”
“Iya, terima kasih ya Aya.”

Sambungan telepon terputus, aku segera melepon rumah Rini. Rini setuju untuk ikut denganku ke rumah sakit itu. Setelah meletakkan gagang telepon ditempat asalnya, aku berdiri termenung. Apa yang sebenarnya terjadi? Putra sakit? Ah rasanya tak mungkin atau Putra kecelakaan? Ah mana bisa, Pak Njang kan supir profesional. Hah. Aku tak sanggup berpikir lagi. Benakku kembali penuh dengan berbagai pertanyaan. Tak terasa aku sudah berdiam disini, terpaku selama 5 menit. Bunyi bel dari pintu depan membuyarkan lamunanku. Aku segera lari menuju pintu dan membukanya. Aku menemukan sesosok laki-laki berperawakan besar yang menggunakan seragam seperti milik Pak Asmin, supirku. Setelah 10 detik aku baru menyadari kalau ia adalah Pak Njang.

bersambung...

Comments

Popular posts from this blog

Firda and Fiqar

i'm........................ failed :(